Jakarta, Inisiator — Sastra tidak sekadar menjadi ruang untuk merangkai kata. Di tangan para penulis, sastra dapat menjadi suara kemanusiaan, jembatan empati, sekaligus cara untuk menyampaikan harapan kepada dunia.
Semangat itulah yang terasa dalam Workshop Penulisan Cerpen Palestina yang digelar di Gedung MUI Lantai 4, Jalan Proklamasi, Jakarta, Kamis (20/8/2026). Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 13.00 WIB hingga selesai tersebut menjadi bagian dari rangkaian awal menuju International Short Story Award on Palestine (ISSA-Palestine) 2026.
Sayembara cerpen tingkat internasional ini digagas oleh Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam Majelis Ulama Indonesia (LSBPI-MUI) dengan mengusung tema “Palestina: Kemanusiaan, Keimanan, dan Kemerdekaan.”
Sastrawan Dorong Peserta Berani Menulis tentang Palestina
Workshop menghadirkan Dr. phil. Habiburrahman El Shirazy, L.C., M.A. dan Dr. Helvy Tiana Rosa, S.S., M.Hum., selaku Ketua Sayembara ISSA-Palestine 2026.
Keduanya membagikan pengalaman dan pengetahuan mengenai dunia kepenulisan dengan pendekatan yang komunikatif dan santai. Peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman mengenai teknik menulis cerpen, tetapi juga didorong untuk berani mengolah isu Palestina menjadi cerita yang kuat, menyentuh, dan memiliki nilai kemanusiaan.
Antusiasme peserta terlihat dari jumlah kehadiran yang mencapai sekitar 200 orang, baik secara langsung maupun daring. Mereka berasal dari beragam latar belakang, mulai dari masyarakat umum, pelajar, guru, penulis, penulis skenario, wartawan, hingga penyandang disabilitas netra.
Sekitar 70 peserta mengikuti workshop melalui jaringan luring dan daring. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa isu Palestina dan sastra mampu melampaui batas wilayah serta menjangkau masyarakat melalui ruang digital.
Menariknya, kehadiran peserta penyandang disabilitas netra juga memberikan warna tersendiri. Mereka menunjukkan ketertarikan terhadap dunia penulisan dan membuktikan bahwa sastra merupakan ruang yang terbuka dan inklusif bagi siapa saja untuk berkarya dan menyampaikan gagasan.
Pelajar Bertemu Penulis Idola
Semangat literasi juga tampak dari kehadiran para pelajar SMA Pusaka Nusantara Bekasi. Bagi mereka, workshop tersebut bukan hanya kesempatan untuk mempelajari teknik menulis cerpen. Kegiatan itu sekaligus menjadi pengalaman berharga karena para siswa dapat bertemu langsung dengan sastrawan dan penulis yang selama ini mereka kagumi.
Materi yang diberikan secara gratis membuka kesempatan bagi para pelajar untuk mengenal dunia sastra lebih dekat. Mereka tidak hanya ditempatkan sebagai pembaca, tetapi juga diajak berani menulis dan menghasilkan karya sendiri.
Palestina Tak Hanya tentang Konflik
Salah satu pesan penting dalam workshop adalah bagaimana penulis dapat menghadirkan Palestina melalui perspektif yang lebih luas.
Dr. Helvy Tiana Rosa menjelaskan bahwa peserta memiliki kebebasan untuk menentukan sudut pandang, karakter, alur, maupun fokus cerita. Namun, seluruh karya diharapkan tetap memiliki benang merah berupa tiga nilai utama ISSA-Palestine 2026, yakni kemanusiaan, keimanan, dan kemerdekaan.
Dengan pendekatan tersebut, Palestina tidak harus selalu diceritakan melalui perspektif politik dan konflik.
Palestina dapat hadir melalui kisah seorang ibu yang kehilangan anaknya, keluarga yang berusaha bertahan di tengah ketidakpastian, anak-anak yang tumbuh dalam situasi sulit, persahabatan, cinta, harapan, perjuangan mempertahankan kehidupan, hingga pengalaman spiritual.
Kehidupan masyarakat Palestina yang beragam juga dapat menjadi sumber cerita. Hubungan antara warga Muslim dan Kristen, misalnya, dapat diangkat sebagai gambaran tentang kehidupan, persaudaraan, dan sikap saling menjaga di tengah situasi yang penuh tantangan.
Dengan demikian, sastra dapat membantu pembaca melihat Palestina bukan semata-mata sebagai persoalan geopolitik, melainkan sebagai kisah tentang manusia, kehilangan, iman, harapan, dan cita-cita akan kemerdekaan.
Dari Workshop Menuju Panggung Sastra Internasional
ISSA-Palestine 2026 dirancang tidak hanya sebagai kompetisi menulis. Lebih dari itu, ajang ini menjadi ruang untuk mempertemukan penulis dari berbagai negara melalui karya sastra.
Untuk memperluas jangkauan pembaca, LSBPI-MUI juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk penerbit dan mitra lainnya.
Karya-karya terpilih nantinya direncanakan hadir dalam tiga bahasa, yakni Indonesia/Melayu, Inggris, dan Arab. Langkah ini diharapkan dapat membuat cerita tentang Palestina menjangkau pembaca yang lebih luas, sekaligus membawa suara para penulis Indonesia ke panggung internasional.
Kolaborasi juga terbuka bagi komunitas, lembaga pendidikan, penerbit, media massa, dan berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap sastra serta isu kemanusiaan.
Dari Pena Menjadi Suara Kemanusiaan
Workshop Penulisan Cerpen Palestina di Gedung MUI akhirnya bukan sekadar ruang belajar menulis. Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan antara sastrawan, pelajar, guru, penulis, wartawan, masyarakat umum, dan komunitas disabilitas.
Dari ruang tersebut, sebuah perjalanan menuju panggung sastra internasional mulai dibangun.
Sebab dari pena lahir cerita. Dari cerita tumbuh empati. Dari empati muncul kepedulian. Dan dari kepedulian, suara kemanusiaan dapat menjangkau lebih banyak orang.
ISSA-Palestine 2026 pun dimulai dengan sebuah cerita—cerita tentang kemanusiaan, keimanan, kemerdekaan, dan harapan. (AA)

Komentar0