Jakarta, Inisiator — Film drama Indonesia dinilai masih memiliki ruang yang sangat luas untuk berkembang, terutama melalui kekuatan cerita lokal, kisah yang dekat dengan kehidupan masyarakat, serta keberanian sineas mengeksplorasi beragam genre.
Hal tersebut mengemuka dalam Pekan Diskusi Film Indonesia yang menjadi bagian dari rangkaian Kreatif Merdeka Carnival 2026 di PFN Heritage, Jakarta Timur, Kamis (27/8/2026).
Mengangkat tema “Trend & Formula Film Drama Saat Ini”, diskusi menghadirkan sejumlah pelaku industri perfilman, yakni sutradara Jeremias Nyangoen (Black Coffee), sutradara Ronny Mepet (Nia & Senyum Manies Love Story), serta produser Joseph Tarigan (Film Made in Bali). Diskusi dipandu Sarsanti Oktaviana dari Creative TV.
Perubahan selera penonton, kekuatan cerita berdasarkan kisah nyata, pengangkatan budaya lokal, hingga perkembangan teknologi dan platform digital menjadi sejumlah isu yang dibahas dalam forum tersebut.
Cerita Lokal Tak Pernah Kehabisan Bahan
Bagi Jeremias Nyangoen, kekayaan budaya dan kehidupan masyarakat Indonesia merupakan sumber cerita yang tidak pernah habis. Ia bahkan memilih menjadikan kisah dari luar Jakarta sebagai bagian penting dalam karya-karyanya.
Salah satunya melalui film Black Coffee, yang mengisahkan perjuangan pasangan suami istri tunanetra untuk mendapatkan seorang anak. Cerita tersebut terinspirasi dari kisah nyata dan mengambil latar kehidupan masyarakat di perkebunan kopi.
Menurut Jeremias, pilihan judul Black Coffee juga memiliki makna simbolis. Kopi hitam menggambarkan kehidupan yang terkadang terasa gelap dan pahit, namun tetap menyimpan cinta serta harapan.
“Saya orang kampung dan saya senang sekali dengan kultur. Membuat film bagi saya bukan hanya sekadar bisnis, tetapi juga bagian dari ibadah. Saya ingin menyampaikan sesuatu lewat gambar.”
Jeremias berharap sineas Indonesia tidak hanya berkutat pada cerita yang sedang populer atau kehidupan masyarakat perkotaan. Menurutnya, banyak kisah dari berbagai daerah yang memiliki kekuatan untuk menjadi film menarik.
“Saya tidak ingin hanya membuat film di Jakarta. Saya ingin membawa cerita dari berbagai daerah, karena Indonesia punya banyak sekali cerita yang belum diangkat.”
Drama Bukan Sekadar Menjual Kesedihan
Fenomena film drama yang mengangkat kisah nyata dan persoalan emosional masyarakat juga menjadi pembahasan menarik. Jeremias menilai, keberhasilan sebuah film dalam menggugah emosi penonton bukan ditentukan oleh seberapa sedih cerita yang disajikan.
Kuncinya justru terletak pada kejujuran dalam membangun cerita.
“Selama ditampilkan secara jujur dan terukur, penonton akan percaya. Itu kuncinya. Penonton percaya, dan kepercayaan itu yang bisa membuat penonton menangis.”
Menurutnya, emosi penonton akan muncul ketika konflik, karakter, akting, setting, hingga visual dibangun secara meyakinkan. Karena itu, riset dan penulisan menjadi tahapan penting sebelum sebuah kisah nyata diterjemahkan ke layar lebar.
Sineas juga dituntut memiliki kepekaan agar proses dramatisasi tidak menghilangkan nilai maupun fakta penting dari cerita yang menjadi sumber inspirasi.
Industri Film Jangan Terjebak Tren
Selain persoalan cerita, diskusi juga menyoroti pentingnya keberagaman genre dalam industri perfilman nasional.
Para sineas dinilai tidak perlu terus mengikuti tren ketika satu genre tertentu sedang menjadi favorit pasar. Sebaliknya, setiap genre perlu mendapatkan ruang untuk berkembang dan menemukan penontonnya.
“Semakin banyak tema, semakin banyak genre, ini akan jauh lebih baik. Ada drama, action, komedi, dan genre lainnya. Biarkan semuanya tumbuh dan berkembang,” ujar salah satu narasumber.
Keberagaman tersebut dinilai dapat membuat ekosistem film Indonesia semakin sehat. Industri tidak hanya bergantung pada satu formula sukses, tetapi memberikan kesempatan kepada kreator untuk menghadirkan karakter, sudut pandang, dan gaya bercerita yang berbeda.
Joseph Tarigan menilai film drama tetap mempunyai prospek kuat karena cerita yang diangkat sering kali berhubungan langsung dengan kehidupan masyarakat.
“Drama-drama yang jujur dengan masalah dan kenyataan yang memang common akan tetap menarik.”
Persoalan keluarga, hubungan orang tua dan anak, perjuangan ekonomi, percintaan hingga konflik sosial menjadi tema yang dinilai akan selalu relevan karena dekat dengan pengalaman sehari-hari penonton.
Ruang Belajar bagi Generasi Muda
Tidak hanya menjadi forum bagi pelaku industri, Pekan Diskusi Film Indonesia juga menjadi ruang edukasi bagi generasi muda yang ingin mengenal lebih jauh proses kreatif di balik sebuah produksi film.
Peserta kegiatan berasal dari pelajar dan guru SMK bidang Broadcasting & Film, siswa SMA/MA, serta generasi muda dan penonton film Indonesia.
Melalui pertemuan langsung dengan para sineas dan pelaku industri, peserta dapat memperoleh gambaran mengenai bagaimana sebuah ide dikembangkan menjadi cerita, melalui proses riset dan penulisan, hingga masuk ke tahap produksi dan strategi menghadapi perubahan perilaku penonton di era digital.
Kegiatan yang diselenggarakan PT Avatara Lintas Media tersebut sekaligus menjadi jembatan antara dunia pendidikan dan industri perfilman.
Mendorong Film Indonesia Lebih Beragam
Pekan Diskusi Film Indonesia menjadi bagian dari semangat Kreatif Merdeka Carnival 2026 untuk menjadikan industri kreatif bukan sekadar ruang pertunjukan dan hiburan, tetapi juga tempat bertukar gagasan, belajar, serta membangun kolaborasi.
Melalui forum semacam ini, sineas muda diharapkan semakin berani mengeksplorasi cerita, mengangkat kekayaan budaya dari berbagai daerah, sekaligus menciptakan karya yang mampu berbicara kepada penonton Indonesia maupun dunia.
Pada akhirnya, masa depan film drama Indonesia tidak hanya bergantung pada formula yang sedang populer. Kejujuran cerita, keberanian mengangkat realitas lokal, keberagaman genre, serta kemampuan membaca perubahan zaman menjadi modal penting untuk membangun perfilman nasional yang semakin kuat dan berkelanjutan.
Mengusung semangat “Berkarya, Berbudaya, Bersatu”, Kreatif Merdeka Carnival 2026 diharapkan mampu menjadi ruang yang mempertemukan kreativitas, budaya, pendidikan, dan industri dalam mendorong pertumbuhan ekosistem kreatif Indonesia. (AA)


Komentar0